Monday, August 27, 2018

PERLAWANAN TERHADAP ISIS DI INDONESIA: IDENTITAS NASIONAL KALAHKAN RADIKALISME AGAMA


PERLAWANAN TERHADAP ISIS DI INDONESIA: IDENTITAS NASIONAL KALAHKAN RADIKALISME AGAMA
Lutfi Fitriani
Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam
Abstrak
 Semenjak kemunculan gerakan ISIS di Indonesia lebih dikenal sebagai kelompok radikal yang berkedok agama. Gerakan ISIS bukanlah kelompok yang memperjuangkan Islam sesungguhnya. Tindakan-tindakan ekstrim yang dilakukannya di Irak dan Suriah tidak mencerminkan sebagai kelompok yang telah mencoreng Islam sebagai agama Rahmatanlilalamin. Berita pada media menjelaskan bahwa gerakan ISIS di Indonesia dapat mengancam Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI. Toleransi beragama di Indonesia menjadi salah satu kunci bagi stablitas politik di negara yang orang-orangnya secara adat memilih nasionalisme diatas keyakinan. Walaupun keragaman yang tersirat dalam identitas Indonesia menjadi salah satu alasan mengapa ISIS memiliki pengaruh terbatas di Indonesia, tapi ancaman mereka tidak bisa diabaikan.
Kata Kunci: Identitas nasional, ISIS








Pendahuluan
Fenomena saat ini terjadi adalah meningkatnya semangat keagamaan di berbagai dunia. Saat ini semangat keagamaan di berbagai negara telah diwarnai dengan sikap berlebihaan dan ekstrem (Yunus Qardhawi dalam Lazuardi Biru, 2012:1). Berbagai aksi kekerasan dan terorisme kini melekat di agama Islam. Tuduhan terhadap agama Islam sebagai agama yang menganjurkan kekerasan dan terorisme selalu terdengar. Berbagai berita-berita di berbagai media ramai memberitakan hal tersebut. Berita yang akhir-akhir ini ramai diberitakan yaitu gerakan ISIS. Suatu fenomena yang saat ini menjadi trending topik berbagai media.
Berita fenomena gerakan ISIS adalah suatu berita terkait dengan kelompok yang lahir di Irak dan Suriah. ISIS adalah singkatan Islamic State of Irak and Suriah lahir pada tahun 2013 dengan ketua Abu Bakar al-Baghdadi. Sepak terjang ISIS di Irak dan Suriah banyak diberitakan. Kelompok yang awalnya ciptaan Al-Qaeda itu tampil sebagai gerakan yang amat sadis dan banyak melakukan tindakan di luar kemanusiaan. Kelompok ini dikenal dengan cara-cara kekerasan, pembunuhan, pemaksaan kehendak, menghancurkan tempat-tempat yang dianggap suci oleh umat Islam, merampok, menarik pajak. Kelompok ini bercirikan bendera hitam dengan kalimat tauhid sebagai lambang.
Indonesia negara yang terdiri atas 17.504 buah pulau besar dan kecil yang bertebaran antara Benua Asia dan Benua Australia serta Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Luas Kepulauan Indonesia kira-kira 5.193.252 km persegi. Panjangnya antara Sabang sampai Merauke lebih kurang mencapai 5.110 km dan itu hampir menyamai besarnya Benua Eropa, dengan berbagai keberagaman dari sisi bahasa, budaya, suku, kondisi alam, dan agama. Agama di Indonesia yang diakui dan dilindungi oleh pemerintah diantaranya: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholik, Hindu, Budha. Agama Islam merupakan agama yang paling banyak dianut di Indonesia (Kansil, 2011:153).
Sebagian masrakat negara Indonesia mayoritas penduduknya sebagian besar muslim ternyata menjadi target ISIS. ISIS dikabarkan telah masuk di negara Indonesia sejak bulan Juli 2014 lalu dengan kemunculan beberapa kelompok di Bundaran HI yang melakukan aksi baiat pertama kali. Akan tetapi kemunculannya baru diketahui di Indonesia, pada saat video dukungan sekelompok warga negara Indonesia yaitu Abu Muuhammad al Indonesi tampil berapi-api pada tanggal 8 Agustus 2014 berjudul ‘Join The Ranks’ atau Ayo Bergabung di unggah di youtube . Kemunculannya yang tidak pernah diduga memberikan kabar buruk di Indonesia sebagai negara kesatuan yang menjunjung tinggi akan persatuan dan kesatuan ini.
Terkait berita fenomena gerakan ISIS di Indonesia adalah pengetahuan yang harus diketahui masyarakat. Ancaman akan keberadaan kelompok ISIS yang mencari dukungan kepada masyarakat Indonesia tidak boleh dibiarkan. Kelompok ini harus diwaspadai. Pancasila yang dijadikan sebagai pedoman dalam berkebangsaan harus tetap di pertahankan terkait dengan kelompok radikalisme yang ingin mengganti dasar negara Indonesia. Penegakkan hukum terkait dengan kelompok yang mendukung ISIS pun harus ditindak secara tegas.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, hal ini mendorong peneliti untuk mendeksripsikan perlawanan terhadap ISIS di Indonesia; identitas nasional kalahkan radikalisme agama.

Pembahasan
ISIS merupakan singkatan Islamic State of Irak and Syiria adalah gerakan keagamaan yang berupaya untuk menegakkan pemerintahan atau negara yang berlandaskan sistem islam (Khilafah Islamiyah) yaitu kelompok ekstremis yang mengikuti ideologi garis keras Al-Qaidah dan berpedoman kepada prinsip-prinsip jihad global (Ramdhany:2014). Kelompok ISIS memiliki ciri Bendera bewarna hitam, hati yang keras (arogan dan sadis). ISIS yang merupakan kelompok radikal baik itu Al-Qaeda, Taliban, Nusra, Boko Haram, dan Asyabab merupakan gerakan yang selalu menghasilkan karya sadisme dan brutalisme. ISIS yang dikenal sebagai kelompok radikal selalu menggunakan karya sadisme dan brutalisme (Samantho, 2014: 33-35).
Tindakan-tindakan gerakan kelompok ini yang radikal lebih dikenal dunia ketimbang tujuan gerakan ini yang ingin mendirikan daullah Islamiyah. Berdasarkan sumber menyatakan bahwa kelompok ini berkedok agama. Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin semakin tercoreng dengan kelompok yang tidak mempunyai toleransi tersebut. Cara-cara yang dilakukan gerakan ISIS sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan Islam dalam Al-Quran. Hal tersebut membenarkan bahwa ISIS mengajak kepada Al-Quran tetapi mereka tidak memahaminya. Kelompok ini mengajak kepada Al-Quran, tetapi tidak mengerti pesan serta nilai agung yang terkandung di dalamnya (Samantho, 2014: 33-35). Apa yang dilakukan ISIS tidak sama sekali mencerminkan ajaran agama Islam yang mencintai kedamaian, toleransi, kerukunan, dan saling mencintai antar sesama. Tindakan gerakan ISIS sangat mencoreng agama Islam sebagai agama yang Rahmatanlilalamin. ISIS hanyalah sebuah kelompok yang berkedok agama dan tidak mencerminkan Islam.
Semenjak kemunculannya di Indonesia gerakan ISIS lebih dikenal sebagai kelompok radikal yang berkedok agama. Gerakan ISIS bukanlah kelompok yang memperjuangkan Islam sesungguhnya. Tindakan-tindakan ekstrim yang dilakukannya di Irak dan Suriah tidak mencerminkan sebagai kelompok yang berasal dari rahim umat Islam tetapi merupakan kelompok yang telah mencoreng Islam sebagai agama Rahmatanlilalamin. Kelompok ini di Indonesia dianggap dapat mengancam empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI. Kelompok ISIS bertentangan dengan keempat pilar tersebut dikarenakan kelompok ini berusaha mengubah dasar negara Indonesia, menjadi dasar negara sesuai ajaran Islam dan mencoba mengubah Indonesia menjadi negara Islam. Identitas Nasional Indonesia sebagaimana terkandung dalam UUD 1945 berupa:
1.      Negara Indonesia sebagai Negara kepulauan Nusantara
2.      Kebudayaan sebagai Identitas Nasional
3.      Bendera, bahasa, lambang Negara serta lagu kebangsaan sebagai Identitas Nasional Indonesia
4.      Bhineka Tunggal Ika sebagai Local Wisdom bangsa Indonesia.


Kesimpulan
Perasaan terancam ditunjukkan dalam hasil analisis isu berita, bahwa gerakan ISIS dapat mengancam stabilitas, persatuan dan kesatuan, NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika serta merusak kedaulatan bangsa. Tindakan radikalisme ditunjukkan dalam hasil analissis isi berita yang menjelaskan bahwa gerakan ISIS merupakan kelompok radikal yang suka melakukan kekerasan, pembunuhan, bom bunuh diri, terorisme dan tindakan lainnnya yang brutal. Sikap radikal ditunjukkan dalam hasil analisis isi berita yang menjelaskan bahwa gerakan ISIS menunjukkan sikap radikal dari sikap intoleransi, dan suka membenarkan setiap gagasan yang dilakukan gerakan ISIS.


DAFTAR PUSTAKA
           
            Aryani, Devi. 2015. Fenomena Radikalisme Gerakan ISIS Di Indonesia (Skripsi). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
Kaelan. 2016. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Paradigma.


Tulungagung, 31 Mei 2018

No comments:

Post a Comment